Jumat, 06 Juli 2012

penatalaksanaan kehamilan


BAB I
PENDAHULUAN
       I.            Latar Belakang
Dewasa ini banyak sekali kasus-kasus terkait masalah kehamilan khususnya mengenai kondisi ibu dan bayi. Terjadi banyak sekali kasus yang menimpa kesehatan ibu dan bayi sehingga membuat public dan pemerintah memfokuskan perhatiannya pada masalah ini sehingga banyak sekali program-program baik dari pemerintah ataupun swasta terkait penanggulangan hal ini.
Seiring hal  itu timbul juga berbagai metode atau teknik-teknik dari penemuan-penemuan baru tentang proses persalinan yang aman salah satunya ialah Hypnobirthing yaitu metode mengurangi rasa sakit saat melahirkan dengan meningkatkan relaksasi selain itu juga Waterbirth juga mulai popular di kalangan masyarakat.
Berdasarkan kondisi di atas maka perlu bagi para ahli medis mengetahui prosedur atau tindakan-tindakan terkait dengan persiapan persalinan hingga proses persalinan.
Makalah ini berisi beberapa pembahasan mengenai persiapan hingga proses persalinan untuk membantu pembaca khususnya tenaga kesehatan dalam meningkatkan kualitas pelayanannya seiring perkembangan zaman.

    II.            Rumusan Masalah
1.      Bagaimana penatalaksanaan pada pasien hiperemisis ?
2.      Bagaimana penatalaksanaa pada pasien kehamilan gemeli ?
3.      Bagaimana penatalaksanaan pada pasien hypnobirthing ?
4.      Bagaimana penatalaksanaan waterbirth ?
5.      Bagaimana pengelolaan kelas ibu hamil ?
6.      Bagaimana pengelolaan kehamilan pada trimester III ?


 III.            Tujuan
a.       Tujuan umum
Adapun tujuan umum penyusunan makalah ini adalah mendukung kegiatan pembelajaran keparawatan, khususnya mata kuliah Sistem Reproduksi II serta melatih mahasiswa untuk berpikir kritis.

b.      Tujuan khusus
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
a)      Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan hiperemisis
b)      Mahasiswa mampu memahami tentang kehamilan gemeli
c)      Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan hypnobirthing
d)     Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan water birth
e)      Mahasiswa mampu memahami pengelolaan kelas ibu hamil
f)       Mahasiswa mampu memahami pengelolaan kehamilan pada trimester III

  1. Manfaat
            Mendapatkan pengetahuan tentang Sistem Reproduksi II khususnya tentang perencanaan persalinan pada ibu hamil sehingga nantinya dapat mengembangkan pengetahuan tersebut dalam praktik keperawatan.


BAB II
PEMBAHASAN


       I.            PENATALAKSANAAN HIPEREMESIS
A.    Pengertian
Hiperemesis adalah mual muntah yang berlebihan pada wanita hamil secara terus-menerus yang terjadi pada trimester I dan trimester II dengan frekuensi >10 kali selama 24 jam karena pengaruh hormon ekstrogen yang dapaat meningkatkan produksi saliva dan dehidrasi serta kelemahan daan stress pada ibu haamil.

B.     Etiologi
Penyebab hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Frekuensi kejadian adalah 2 per 1000 kehamilan. Faktor-faktor predisposisi yang dikemukakan (Rustam Mochtar, 1998).
1)      Faktor organik, yaitu karena masuknya vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat kehamilan serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan-perubahan ini serta adanya alergi, yaitu merupakan salah satu respon dari jaringan ibu terhadap janin.
2)      Faktor Psikologik, Faktor ini memegang peranan penting pada penyakit ini. Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggungan sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.
3)      Faktor endokrin lainnya : hipertiroid, diabetes, peningkatan kadar HCG dan lain-lain.

C.    Tanda dan Gejala
Batas mual dan muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada kesepakatan. Ada yang mengatakan bila lebih dari sepuluh kali muntah. Akan tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Menurut berat ringannya gejala dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :
1)      Tingkatan I (ringan)
-          Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita
-          Ibu merasa lemah
-          Nafsu makan tidak ada
-          Berat badan menurun
-          Merasa nyeri pada epigastrium
-          Nadi meningkat sekitar 100 per menit
-          Tekanan darah menurun
-          Turgor kulit berkurang
-          Lidah mongering
-          Mata cekung

2)      Tingkatan II (sendang)
-          Penderita tampak lebih lemah dan apatis
-          Turgor kulit mulai jelek
-          Lidah mengering dan tampak kotor
-          Nadi kecil dan cepat
-          Suhu badan naik (dehidrasi)
-          Mata mulai ikterik
-          Berat badan turun dan mata cekung
-          Tensi turun, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi
-          Aseton tercium dari hawa pernafasan dan terjadi asetonuria.



3)      Tingkatan III (berat)
-          Keadaan umum lebih parah (kesadaran menurun dari somnolen sampai koma)
-          Dehidrasi hebat
-          Nadi kecil, cepat dan halus
-          Suhu badan meningkat dan tensi turun
-          Terjadi komplikasi fatal pada susunan saraf yang dikenal dengan enselopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan penurunan mental
-          Timbul ikterus yang menunjukkan adanya payah hati.

D.    Penatalaksanaan
a)      Pencegahan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum diperlukan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologis. Hal itu dapat dilakukan dengan cara :
-          Memberikan keyakinan bahwa mual dan muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan berumur 4 bulan.
-          Ibu dianjurkan untuk mengubah pola makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi sering.
-          Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering arau biskuit dengan teh hangat
-          Hindari makanan yang berminyak dan berbau lemak
-          Makan makanan dan minuman yang disajikan jangan terlalu panas atau terlalu dingin
-          Usahakan defekasi teratur.


b)      Terapi obat-obatan
Apabila dengan cara diatas keluhan dan gejala tidak berkurang maka diperlukan pengobatan.
-          Tidak memberikan obat yang terotogen
-          Sedativa yang sering diberikan adalah Phenobarbital
-          Vitamin yang sering dianjurkan adalah vitamin B1 dan B6
-          Antihistaminika seperti dramamine, avomine
-          Pada keadaan berat, anti emetik seperti diklomin hidrokhoride atau khlorpromazine.

E.     Akibat hiperemesis bagi ibu dan janin
1)      Pada ibu
·         Anemia, preeklampsia
·         Perslinan premature
·         Kelemahan

2)      Pada janin
·         KJDR ( kematian janin dalam rahim )
·         Angka kematian lebih tinggi
·         BBLR


    II.            GEMELI
A.    Pengertian
Kehamilan kembar atau kehamilan multipel ialah suatu kehamilan dengan dua janin atau lebih yang menghasilkan 2 janin dari monozigot maupun dizigot yang biasanya terjadi pada wanita hamil berusia 25 tahun dan wanita gemuk, biasanya bayi lahir prematur.

B.     Etiologi
1)      Kembar Monozigotik
Kembar monozigotik atau identik, muncul dari suatu ovum tunggal yang dibuahi yang kemudian membagi menjadi dua struktur yang sama, masing-masing dengan potensi untuk berkembang menjadi suatu individu yang terpisah.
Hasil akhir dari proses pengembaran monozigotik tergantung pada kapan pembelahan terjadi, dengan uraian sebagai berikut :
·         Apabila pembelahan terjadi didalam 72 jam pertama setelah pembuahan, maka dua embrio, dua amnion serta dua chorion akan terjadi dan kehamilan diamnionik dan di chorionik. Kemungkinan terdapat dua plasenta yang berbeda atau suatu plasenta tunggal yang menyatu.
·         Apabila pembelahan terjadi antara hari ke-4 dan ke-8 maka dua embrio akan terjadi, masing-masing dalam kantong yang terpisah, dengan chorion bersama, dengan demikian menimbulkan kehamilan kembar diamnionik, monochorionik.
·         Apabila terjadi sekitar 8 hari setelah pembuahan dimana amnion telah terbentuk, maka pembelahan akan menimbulkan dua embrio dengan kantong amnion bersama, atau kehamilan kembar monoamnionik, monochorionik.
·         Apabila pembuahan terjadi lebih belakang lagi, yaitu setelah lempeng embrionik terbentuk, maka pembelahannya tidak lengkap dan terbentuk kembar yang menyatu.

2)      Kembar Dizigot
Dizigotik, atau fraternal, kembar yang ditimbulkan dari dua ovum yang terpisah. Kembar dizigotik terjadi dua kali lebih sering daripada kembar monozigotik dan insidennya dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain yaitu ras, riwayat keluarga, usia maternal, paritas, nutrisi dan terapi infertilitas.

C.    Tanda dan Gejala
·         Berat badan naik
·         Terdengar 2 DJJ
·         Perut membesar / Rahim tumbuh lebih besar
·         Lebih sering mual muntah
·         Sesak nafas
·         Sering berkemih
·         Distensi berlebih
·         Uterus lebih mendesak
·         Edema tungkai

D.    Patofisiologi
Pada kehamilan kembar distensi uterus berlebihan, sehingga melewati batas toleransi dan seringkali terjadi putus prematurus. Lama kehamilan kembar dua rata-rata 260 hari, triplet 246 hari dan kuadruplet 235 hari. Berat lahir rata-rata kehamilan kembar ± 2500gram, triplet 1800gram, kuadriplet 1400gram. Penentuan zigositas janin dapat ditentukan dengan melihat plasenta dan selaput ketuban pada saat melahirkan. Bila terdapat satu amnion yang tidak dipisahkan dengan korion maka bayi tesebut adalah monozigotik. Bila selaput amnion dipisahkan oleh korion, maka janin tersebut bisa monozigotik tetapi lebih sering dizigotik.
Pada kehamilan kembar dizigotik hampir selalu berjenis kelamin berbeda. Kembar dempet atau kembar siam terjadi bila hambatan pembelahan setelah diskus embrionik dan sakus amnion terbentuk, bagian tubuh yang dimiliki bersama dapat.
Secara umum, derajat dari perubahan fisiologis maternal lebih besar pada kehamilan kembar dibanding dengan kehamilan tunggal. Pada trimester 1 sering mengalami nausea dan muntah yang melebihi yang dikarateristikan kehamilan-kehamilan tunggal. Perluasan volume darah maternal normal adalah 500 ml lebih besar pada kehamilan kembar, dan rata-rata kehilangan darah dengan persalinan vagina adalah 935 ml, atau hampir 500 ml lebih banyak dibanding dengan persalinan dari janin tunggal.
Massa sel darah merah meningkat juga, namun secara proporsional lebih sedikit pada kehamilan-kehamilan kembar dua dibanding pada kehamilan tunggal, yang menimbulkan” anemia fisiologis” yang lebih nyata. Kadar haemoglobin kehamilan kembar dua rata-rata sebesar 10 g/dl dari 20 minggu ke depan. Sebagaimana diperbandingkan dengan kehamilan tunggal, cardiac output meningkat sebagai akibat dari peningkatan denyut jantung serta peningkatan stroke volume. Ukuran uterus yang lebih besar dengan janin banyak meningkatkan perubahan anatomis yang terjadi selama kehamilan. Uterus dan isinya dapat mencapai volume 10 L atau lebih dan berat lebih dari 20 pon. Khusus dengan kembar dua monozygot, dapat terjadi akumulasi yang cepat dari jumlah cairan amnionik yang nyata sekali berlebihan, yaitu hidramnion akut.
Dalam keadaan ini mudah terjadi kompresi yang cukup besar serta pemindahan banyak visera abdominal selain juga paru dengan peninggian diaphragma. Ukuran dan berat dari uterus yang sangat besar dapat menghalangi keberadaan wanita untuk lebih sekedar duduk.
Pada kehamilan kembar yang dengan komplikasi hidramnion, fungsi ginjal maternal dapat mengalami komplikasi yang serius, besar kemungkinannya sebagai akibat dari uropati obstruktif. Kadar kreatinin plasma serta urin output maternal dengan segera kembali ke normal setelah persalinan. Dalam kasus hidramnion berat, amniosintesis terapeutik dapat dilakukan untuk memberikan perbaikan bagi ibu dan diharapkan untuk memungkinkan kehamilan dilanjutkan.
Berbagai macam stress kehamilan serta kemungkinan-kemungkinan dari komplikasi-komplikasi maternal yang serius hampir tanpa kecuali akan lebih besar pada kehamilan kembar.
                                                                                                        
E.     Penatalaksanaan
Untuk menurunkan mortalitas dan morbiditas perinatal pada kehamilan kembar, perlu dilakukan tindakan-tindakan untuk mencegah terjadinya komplikasi seawal mungkin. Diagnosis dini kehamilan kembar harus dapat ditegakkan sebagai perencanaan pengelolaan kehamilan. Mulai umur kehamilan 24 minggu pemeriksaan antenatal dilakukan tiap 2 minggu, dan sesudah usia kehamilan 36 minggu pemeriksaan dilakukan tiap minggu. Istirahat baring dianjurkan lebih banyak karena hal itu menyebabkan aliran darah keplasenta meningkat agar pertumbuhan janin baik.
Kebutuhan kalori, protein, mineral, vitamin dan asam lemak esential harus cukup oleh karena kebutuhan yang meningkat pada kehamilan kembar. Kebutuhan kalori harus ditingkatkan sebesar 300 kalori perhari. Pemberian 60 sampai 100 mg zat besi perhari, dan 1 mg asam folat diberikan untuk menambah zat gizi lain yang telah diberikan. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk mengetahui adanya diskordansi pada kedua janin pengukuran lingkar perut merupakan indikator yang sensitif dalam menentukan diskordansi.
Pada kehamilan kembar terjadi peningkatan risiko persalinan preterm, sehingga dilakukan pemberian kortikosteroid diperlukan untuk pematangan paru berupa betamethsone 12 mg/hari , untuk 2 hari saja. Bila tak ada betamethasone dapat diberikan dexamethasone serta pemberian tokolitik.

F.     Komplikasi
3)      Pada ibu
·         Anemia, preeklampsia
·         Perslinan premature
·         Inersia / atonia uteri
·         Plasenta previa
·         Solusio plasenta
·         HPP

4)      Pada janin
·         KJDR ( kematian janin dalam rahim )
·         Angka kematian lebih tinggi
·         BBLR
·         Cacat bawaan
·         Mobiditas dan mortalitas




 III.            PENATALAKSANAAN HYPNOBIRTHING
A.    Pengertian
Hypnobirthing berasal dari kata hypno (hypnos dari bahasa Yunani yang artinya "tidur") dan birthing dari bahasa Inggris yaitu "proses melahirkan". Hypnobirthing adalah science and art (ilmu pengetahuan dan keterampilan dengan bahasan secara ilmiah).
Hypnobirthing merupakan teknik melahirkan secara alami, yang meliputi relaksasi mendalam, pola pernapasan secara lambat dan petunjuk cara melepaskan endorfin dari dalam tubuh. Hypnobirthing memungkinkan calon ibu untuk menikmati proses kelahiran yang aman, lembut, cepat dan tanpa proses pembedahan.

B.     Tujuan dan manfaat
1)      Untuk Ibu
Ibu hamil bisa memanage atau mengurangi kadar rasa sakit saat melahirkan, meminimalisir stress, depresi saat masa melahirkan, karena ibu jauh lebih mudah mengontrol emosinya. Ibu mendapatkan rasa nyaman, ketenangan dan kebahagiaan karena persalainan yang lebih lancar. Mencegah kelelahan yang berlebihan saat proses persalainan, malah beberapa kasus meski habis mengejan namun wajah menjadi jauh lebih segar. Mengurangi komplikasi medis dalam melahirkan.
2)      Untuk janin
Janin merasa ada kedekatan emosi dan ikatan batin lebih kuat, karena saat melakukan hypnobirthing ubu dan janin menjalin komunikasi bawah sadar, bayi yang dolahirkan relatif tidak kekurangan oksigen. Janin juga merasa damai dan mendapatkan getaran tenang serta pertumbuhan hormon melalui plasenta lebih seimbang.
3)      Untuk Suami
Merasa lebih tenang dalam mendampingi proses kelahiran, emosi kehidupan suamiistri lebih seimbang, (karena ada wanita hamil yang bawaanya lebih marah marah, lebih egois dll) bisa diseimbvangakan dengan hypnobirthing. Jika suami melakukan hypnobirthing ke istri ada jalinan lebih mesra ke istrinya dan bisa mendekatkan dengan sang janin.
4)      Keuntungan bagi Dokter dan para medis
Kerja lebih ringan, karena wanita yang masuk program hypnobirthing lebih stabil emosinya, tidak banyak mengeluh. Proses persalingan jauh lebih lancar dan cepat. Meminimalkan penggunaan obat bius, kemungkinan komplikasi persalinan lebih kecil.Proses pembukaan jalan lahir lebih singkat, meminimalkan penggunaan induksi persalinan.

C.    Indikasi dan kontraindikasi
1)      Indikasi
·         Hanya untuk pasien-pasien kooperatif
·         Pasien cemas
2)      Kontraindikasi
·         Pasien pada kala I aktif

D.    Tekhnik
Teknik Ada berbagai teknik dalam hypnobirthing namun intinya masih seperti menghypnosis biasa yaitu preinduksi – induksi – deepening -terapeutic sugestion dan terminasi.
Preinduksi adalah persiapan masuk ke pikiran bawah sadar dan termasuk mengetahu sebgai manfaat melakukan hypnosis. Dalam aras pre induksi ini ibu hamil juga dilatih tungkat kepekaan terhadap sugestibilitas, bisa dengan menggunakan alat atau tanpa alat. Salah satu alat yang digunakan adalah pendulum cevreul, caranya diamkan pendulum dan pandang pendulum lalu berkonsetrasi menggerakkan pendulum ke kanan ke kiri atau berputar hanya dengan memfokuskan pikiran. Cara lain tanpa alat yaitu dengan metode arm levitation yaitu mengangkat dua tangan lalu merasakan sugesti tangan kiri seolah ada sensasi balon hingga tangan kiri terangkat ke atas, tangan kanan ada sensasi membawa buku berat sehingga merasa tertarik ke bawah. Biasanya hypnotherapis akan mengajarkan kepada ibu hamil yang ikut kursus hypnobirthing.
Tahap berikutnya adalah induksi yaitu tahap bagaimana meng-offkan pikian sadar dan masuk ke pikiran bawah sadar. Yang lazim gigunakan adalah progresif relaksasi yaitu relaksasi bertahap secara cepat dari ujung kepala secara bagian per bagian sampai ujung kaki. Berikutnya untuk memperdalam relaksasi dilakukan deepening, bisa menggunkan metode elevator seirirng dengan turunnya elevator maka relaksasi makin dalam, cara yang lai bisa menggunakan ball of light yaitu imaginasi kekuatan bola cahaya yang selain memperdalam relaksasi juga sekaligus sugesti menghilangkan kepenatan dan rasa capai. Setalah dilakukan deepening dilakuakna hypnotherapeuticnya, bisa sugesti badan sehat dan perasaan gembira, maupun imaginsi bagaimana melahirkan dengan nyaman dan damai serta tenang. Methode sugesti bisa bermacam macam, bisa disesuaikan dengan keadaan emosi dan fisikal pasien , namun jika pasien mengalami berbagi kasus trauma dan ketakutan yang berlebihan, memang perlu seorang hypnotherapist untuk membantu.
Seorang hypnotherapist akan mencari permasalahannya dengan metode hypnoanalisis. Sugesti bisa berupa mehtapora sugesti, bisa dengan empowerment sugesti maupun berbagai kalimat afirmatif. Setelah itu proses ditutup dengan terminasi sambil memberikan sugesti membuka mata dengan keadaadansgear budar.

E.     Efek samping
Apabila hypnotherapist tidak memberikan sugestinya dengan benar, maka calon ibu akan salah mengejan.

F.     Peran perawat

Pendamping kelahiran pilihan ibu merupakan bagian integral dari pengalaman hypnobirthing. Dia akan praktek bersama ibu untuk membantu mempersiapkan relaksasi yang mendalam. Selama proses melahirkan atau persalinan, pendamping kelahiran membimbing ibu memasuki hypnosis dengan teknik relaksasi, deepening dan visualisasi. Pendamping kelahiran juga mempersiapkan kondisi melahirkan atau persalinan yang nyaman untuk ibu, bergabung dalam menyambut bayi yang baru lahir dan biasanya menerima bayi saat dia muncul.


 IV.            PENATALAKSANAAN WATERBIRTH
A.    Pengertian
Waterbirth adalah proses persalinan yang dilakukan di dalam air. Sang ibu yang akan melakukan proses persalinan memasuki air kolam saat mulut rahim sudah tahap pembukaan 6.
Water birth merupakan salah satu metode persalinan pervaginam, dimana ibu hamil tanpa komplikasi bersalin dengan jalan berendam dalam air hangat (yang dilakukan pada bathtub atau kolam)  dengan suhu 340-370 yang suhunya disesuaikan dengan suhu dalam rahim ibu sampai proses melahirkan berakhir, dengan tujuan mengurangi rasa nyeri kontraksi dan memberi sensasi rasa nyaman. Ada 2 metode waterbirth, yaitu :
1)      Water birth murni, ibu masuk ke kolam persalinan setelah mengalami pembukaan 6 sampai proses melahirkan terjadi.
2)      Water birth emulsion, ibu hanya berada di dalam kolam hingga masa kontraksi akhir. Proses melahirkan tetap dilakukan di tempat tidur.

B.     Tujuan dan manfaat
Metode Waterbirth memiliki banyak keuntungan bagi ibu dan bayi dibandingkan dengan metode persalinan tradisional. Ini dihubungkan secara signifikan dengan adanya pengurangan penggunaan analgesic pemendekan persalinan kala I dan pengurangan angka episiotomi jika dibandingkan dengan persalinan lainnya.

C.    Keuntungan water birth
1)      Keuntungan Bagi Ibu
a.       Mengurangi Nyeri Persalinan dan Memberi Rasa Nyaman
Nyeri persalinan berkurang disebabkan ibu berendam dalam air hangat yang membuat rileks dan nyaman sehingga rasa sakit dan stress akan berkurang. Mengurangi rasa sakit adalah tujuan utamanya, sedangkan secara teknis melahirkan dalam air pada dasarnya sama seperti melahirkan normal, proses dan prosedurnya sama hanya tempatnya yang berbeda. Pada Water Birth ibu melahirkan bayinya dalam kolam dengan posisi bebas dan yang paling dirasakan nyaman oleh ibu. Kolam dapat terbuat dari fiber glass atau bahan lain.
Adanya mitos yang menyebutkan pemanjangan fase-fase persalinan. Pada kenyataannya Water Birth merupakan persalinan alamiah, dan tidak sepenuhnya mengurangi nyeri kontraksi. Meskipun demikian banyak wanita merasakan adanya pengurangan nyeri sewaktu ada dalam air, berendam dalam air hangat dan mengapung. Penelitian juga menunjukkan persalinan dalam air sesungguhnya dapat memperpendek persalinan kala I dan tekanan darah menjadi lebih rendah di banding persalinan konvensional. Ibu hamil yang berendam di dalam air hangat pada persalinan dengan penyulit (distosia) dibandingkan dengan augmentasi standar menunjukkan bahwa angka penggunaan epidural analgesia dan intervensi obstetri lebih rendah. Berendam dalam air akan dapat mengurangi 75% nyeri persalinan, kemampuan mengapung ibu akan menolong untuk relaksasi, pergerakan selama persalinan water birth yang lebih leluasa menyebabkan ibu nyaman dan rileks, sedangkan air hangat akan membantu mengurangi nyeri.

b.      Mengurangi Tindakan Episiotomi
Dalam hal trauma perineum, dukungan air pada waktu kepala bayi crowning lambat akan menurunkan risiko robekan dan dapat mengurangi keperluan akan tindakan episiotomi. Selain itu, trauma perineum yang terjadi tidak berat dengan dijumpai lebih banyak kejadian intak perineum. Masih terdapat mitos bahwa ibu yang melahirkan dalam air lebih mungkin untuk mengalami robekan karena yang membantu persalinan kesulitan untuk melakukan episiotomi jika diperlukan. Namun sesungguhnya ibu yang melahirkan dalam air hangat kurang mengalami robekan karena air hangat dapat meningkatkan aliran darah dan mampu melunakkan jaringan di sekitar perineum ibu. Ketika memerlukan episiotomy, penolong justru lebih mudah menjangkau bagian perineum ibu untuk melakukan message atau tindakan lain. Kebanyakan episiotomi tidak diperlukan dan jika penolong menganggap selama proses persalinan terdapat keadaan emergensi penolong akan membatalkan pelaksana metode ini.

c.       Pemendekan Persalinan Kala I
Persalinan dan kelahiran di dalam air juga dapat mempercepat proses persalinan yang dihubungkan secara signifikan dengan persalinan kala I yang akan menjadi lebih pendek. Dalam hal ini ibu dapat lebih mengontrol perasaannya, menurunkan tekanan darah, lebih rileks, nyaman, menghemat tenaga ibu, mengurangi keperluan obat-obatan dan intervensi lainnya, member perlindungan secara pribadi, mengurangi trauma perineum, meminimalkan penggunaan episiotomy, mengurangi kejadian seksio sesaria, memudahkan persalinan.

d.      Menurunkan Tekanan Darah
Dalam hal menurunkan tekanan darah, menurut Pre & Perinatal Psycology Association of North America Conference, wanita dengan hipertensi akan mengalami penurunan tekanan darah setelah berendam dalam air hangat selama 10-15 menit. Kecemasan yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah akan dapat dikurangi dengan berendam dalam air hangat.

2)      Keuntungan Bagi Bayi
Persalinan sendiri dapat mejadi masalah, mungkin juga mengganggu dan merupakan pengalaman bagi bayi. Water Birth memberikan keuntungan terutama saat kepala bayi masuk ke jalan lahir, dimana persalinan akan menjadi lebih mudah. Air hangat dengan suhu yang tepat suasananya menyerupai lingkungan intrauterine sehingga memudahkan transisi dari jalan lahir ke dunia luar.
Air hangat juga dapat mengurangi ketegangan perineum dan member rasa nyaman bagi ibu dan bayi, sehingga bayi lahir kurang mendapatkan trauma (oleh karena adanya efek dapat melenturkan dan meregangkan jaringan perineum dan vulva) dibandingkan pada persalinan air dingin dan tempat bersalin umumnya.
Bayi yang lahir di dalam air tidak segera menangis, bayi tampak menajdi tenang. Bayi tidak tenggelam jika dilahirkan di air, karena selama kehamilan bayi hidup dalam lingkungan air (amnion) sampai terjadi transisi persalinan dari uterus ke permukaan air.
Demikian pula masalah lilitan tali pusat di leher, tidak menjadi masalah, sepanjang tidak ada deselerasi denyut jantung bayi (yang menunjukkan fetal distress) sebagai akibatnya ketatnya lilitan tali pusat di leher. Pemendekan persalinan kala I selain memudahkan persalinan bagi ibu juga baik untuk bayi yaitu mencegah trauma atau resiko cedera kepala bayi, kulit menjadi lebih bersih, menurunkan risiko bayi keracunan air ketuban.

D.    Kerugian Water Birth
Adapun risiko-risiko yang dapat timbul antara lain:
1)      Risiko Maternal
a.       Infeksi
Menurut European Journal of Obstetrics and Reproductive Biology 2007, Water Birth merupakan avaluable alternative persalinan normal. Penelitian yang dipimpin oleh Rosanna Zanetti-Daellenbach menemukan tidak ada perbedaan angka kejadian infeksi maternal maupun neonatal atau parameter laboratorium termasuk luaran fetus dalam hal APGAR Score, pH darah dan keperluan perawatan intensif.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa Water Birth menyebabkan risiko infeksi oleh karena berendam dalam air yang tidak steril dan ibu dapat mengeluarkan kotoran saat mengedan dalam kolam air.
Namun penelitian menunjukkan bahwa traktus intestinal bayi mendapatkan keuntungan dari paparan ini. Kelahiran tersebut dan diri kita sendiri tidak steril. Sekresi vagina blood slim, cairan amnion, dan feses ibu ketika bayi masuk ke dalam rongga panggul, keseluruhannya tidak steril. Jika ibu dalam keadaan persalinan kala aktif, air tidak akan masuk ke jalan lahir sewaktu ibu ada dalam kolam.
Air dapat masuk ke vagina, namun tidak dapat masuk ke vagina bagian dalam, ke serviks maupaun uterus. Penyakit infeksi tertentu, akan mati segera ketika kontak dengan air. Salah satu cara yang digunakan untuk mencegah terjadinya infeksi adalah menggunakan pompa pengatur agar air tetap bersikulasi dengan filter/penyaring air sehingga jika air terminum tidak beresiko infeksi. Kolam yang sudah disterilkan kemudian akan diisi air yang suhunya sekitar 32-370 disesuaikan dengan suhu tubuh.

b.      Perdarahan Postpartum
Risiko perdarahan pada ibu dan bayi juga harus dipertimbangkan. Walaupun comparative study di Swiss menunjukkan suatu hal yang positif, namun penelitian lain di Inggris tidak menemukan adanya perbedaan yang bermakna antara metode Water Birth dengan metode persalinan lainnya. Penyedia layanan Water Birth yang tidak berpengalaman akan sukar menilai jumlah perdarahan post partum, sementara metode penanganannya telah berkembang dengan baik. Hal ini menyebabkan sejumlah penyedia layanan lebih memilih melahirkan plasenta di luar kolam seperti di The University of Michigan Hospital.

c.       Trauma Perineum
Penggunaan episiotomy pada Water Birth 8,3% tidak menunjukkan laserasi perineum derajat tingkat III dan IV dan 25,7%, pada land birth menunjukkan kejadian laserasi perineum derajat tingkat III dan IV dengan angka penggunaan episiotomi lebih tinggi. A Cochrane review oleh Cluett et all, membuktikan bahwa ada resiko terjadi trauma perineum pada persalinan dengan Water Birth, namun tidak terdapat perbedaan yang bermkana pada luaran klinik dalam hal trauma perineum. Pada penelitian tahun 1991-1997 Obstetrics and Gynecology of Cantonal Hospital of Frauenfeld, Switzerland membandingkan 3 group persalinan pervaginam: water birth, Maia-birthing stool, dan bedbirth mendapatkan angka kejadian episiotomy 12,8% pada water birth 27,7% pada Maia-birthing stool, dan 34,5% pada bedbirth. Ini secara statistic sangat bermakna. Disamping angka episiotomy bedbirth terjadi paling tinggu juga menunjukkan derajat laserasi perineum III dan IV (4,1%).

2)      Risiko Neonatal
Terdapat risiko penting secara klinik pada bayi, termasuk masalah pernapasan rupture tali pusat disertai perdarahan, dan penularan infeksi melalui air.

a.       Terputusnya Tali Pusat
Mekanisme terputusnya tali pusat ini terjadi ketika bayi lahir sesegera mungkin dibawa ke permukaan air tidak sedara “gentle”, jika tali pusat pendek akan dapat mengakibatkan tegangan yang berlebihan pada tali pusat. Suatu review yang mengidentifikasi 16 artikel, melaporkan adanya 63 komplikasi neonatal diakibatkan oleh water birth, salah satu diantaranya adalah masalah putusnya tali pusat. Kasus terputusnya tali pusat kemungkinan disebabkan oleh terlalu cepat mengangkat bayi kepermukaan sehingga menyebabkan tarikan cepat dari tali pusat yang melampaui panjang tali dibandingkan biasanya.

b.      Takikardi
c.       Infeksi
Risiko infeksi terjadi pada water birth. Infeksi saluran pernapasan pada bayi yang dilahirkan secara water birth jarang terjadi namun resiko ini tetap harus diperhitungkan. Sejumlah kasus yang mungkin membahayakan bayi antara lain infeksi herpes, perdarahan luas, dan berbagai infeksi lainnya. Metode water birth tidak direkomendasikan pada bayi preterm. Berdasarkan laporan kasus yang dipublikasikan, infeksi P.aeruginosa didapatkan pada bayi preterm.
Berdasarkan laporan kasus yang dipublikasikan infeksi P.aeruginosa didapatkan pada swab telinga dan umbilicus bayi yang lahir dengan water birth.

d.      Hipoksia
Tali pusat secara terus menerus akan menyediakan darah beroksigen, sambil bayi merespon stimulasi baru yaitu pertama kali mengisi paru-parunya dengan udara. Penundaan pengkleman dan pemotongan tali pusat sangat bermanfaat dalam proses transisi bayi untuk hidup di luar uterus. Ini akan memaksimalkan fungsi perfusi jaringan paru.
Garland (2000) tidak merekomendasikan pemotongan dan pengkleman tali pusat sampai bayi mencapai permukaan air disebabkan oleh meningkatnya risiko hipoksia. Hipoksia bayi akan mengganggu baby’s dive reflex, yang mengakibatkan penekanan respon menelan sehingga akan menimbulkan bayi menghirup air selama proses water birth. Odent (1998) merekomendasikan pengkleman tali pusat 4-5 menit setelah persalinan. Namun menurut Austin, Bridges, Markiewicz and Abrahamson (1997) penundaan pengkleman tali pusat dapat mengakibatkan polistemia. Berdasarkan hipotesa bahwa air hangat mencegah vasokonstriksi tali pusat sehingga banyak darah ibu tertransfer ke bayi (vasokontriksi terjadi ketika kontak dengan udara)

d.      Aspirasi Air dan Tenggelam
Secara teoritis risiko terjadinya aspirasi air pada water birth sekitar 95%. Risiko masuknya air ke dalam paru-paru bati dapat dihindari dengan mengangkat bayi yang lahir sesegera mungkin ke permukaan air. Pemanjangan fase berendam mengakibatkan kekurangan oksigen emboli air dan perdarahan. Air hangat mencegah pembekuan darah setelah persalinan dan juga risiko infeksi.

E.     Indikasi dan kontraindikasi
1)      Syarat-syarat
a.       Ibu hamil risiko rendah
b.      Ibu hamil tidak mengalami infeksi vagina saluran kencing dan kulit
c.        Tanda vital ibu dalam batas normal dan CTG bayi normal (baseline, variabilitas dan ada akselerasi)
d.       Idealnya, air hangat digunakan untuk relaksasi dan penanganan nyeri setelah dilatasi serviks mencapai 4-5 cm) Pasien setuju mengikuti instruksi penolong, termasuk keluar dari kolam tempat berendam jika diperlukan

2)      Kriteria / Indikasi
a.       Merupakan pilihan ibu
b.      Kehamilan normal ≥ 37 minggu
c.       Fetus tunggal presentasi kepala
d.      Tidak menggunakan obat-obat penenang
e.       Ketuban pecah spontan < 24 jam
f.       Kriteria non klinik seperti staf atau peralatan
g.      Tidak ada komplikasi kehamilan (preeklampsia, gula darah tak terkontrol,dll)
h.      Denyut jantung normal
i.        Cairan amnion jernih
j.        Persalinan spontan atau setelah menggunakan misoprostol atau pitocin

3)      Kontra Indikasi
a.       Infeksi yang dapat ditularkan melalui kulit dan darah
b.      Infeksi dan demam pada ibu
c.       Herpes genitalis
d.      HIV, Hepatitis
e.       Denyut jantung abnormal
f.       Perdarahan pervaginam berlebihan

F.     Tekhnik
1)      Beberapa instrument essential yang harus dipersiapkan pada persalinan dengan metode water birth antara lain:
a) Termometer air
b) Termometer ibu
c) Doppler anti air
d) Sarung tangan
e) Apron
f) Jaring untuk mengangkat kotoran
g) Alas lutut kaki, bantal, instrument partus set
h) Shower air hangat, portable/permanent pool
i) Handuk, selimut
j) Warmer dan peralatan resusitasi bayi
2)      Selama Berlangsungnya Persalinan
a.       Ibu masuk berendam ke dalam air direkomendasikan saat pembukaan 4-5 cm dengan kontraksi uterus baik, ibu dapat mengambil posisi persalinan yang disukainya.
b.      Volume air di dalam kolam berada di bawah pusar ibu, di isi air dengan suhu tubuh sekitar 37º C (sesuai dengan suhu air ketuban dalam rahim)

3)      Observasi dan monitoring antara lain:
a.       Fetal Heart Rate (FHR) dengan doopler atau fetoskop setiap 30 menit selama persalinan kala I aktif, kemudian setiap 15 menit selama persalinan kala II. Auskultasi dilakuakn sebelum, selama, setelah kontraksi.
b.      Penipisan dan pembukaan serviks dan posisi janin. Pemeriksaan vagina (VT) dapat dilakukan di dalam air atau pasien di minta sementara keluar dari air untuk diperiksa.
c.       Status ketuban, jika terjadi rupture ketuban, periksa FHR dan periksa adanya prolaps tali pusat. Jika cairan ketuban mekonium pasien harus meninggalkan kolam.
d.      Tanda vital ibu diperiksa setiap 3 jam, dengan suhu setiap 2 jam (atau jika diperlukan). Jika ibu mengalami pusing, periksa vital sign, ajarkan ibu mengatur napas selama kontraksi .
e.       Dehidrasi ibu. Dehidrasi dibuktikan dengan adanya takikardi ibu dan janin dan peningkatan suhu badan ibu. Jika tanda dan gejala dehidrasi terjadi, ibu diberikan cairan. Jika tidak berhasil pasang infus ringer laktat (RL)

4)      Manajemen Kala II
a.       Mengedan seharusnya secara fisiologis. Ibu diperkenankan mengedan spontan, risiko ketidakseimbangan oksigen dan karbondioksida dalam sirkulasi maternal-fetal berkurang, dan juga akan dapat melelahkan ibu dan bayi.
b.      Persalinan, bila mungkin metode “hand off”. Ini akan meminimalkan stimulasi.
c.       Tidak diperlukan palpasi tali pusat ketika kepala bayi lahir, karena tali pusat dapat lepas dan melonggar ketika bayi lahir. Untuk meminimalkan risiko tali pusat terputus dengan tidak semestinya hindari tarikan ketika kepala bayi ke permukaan air. Tali pusat jangan diklem dan dipotong ketika bayi masih ada di dalam air.
d.       Bayi seharusnya lahir lengkap dalam air. Kemudian sesegera mingkin dibawa kepermukaan. Pada saat bayi telah lahir kepala bayi berada diatas permukaan air dan badannyamasih di dalam air untuk menghindari hipotermia. Sewaktu kepala bayi telah berada di atas air, jangan merendamnya kembali.

5)      Manajemen Kala III
a.       Manajemen aktif dan psikologi tetap diberikan sampai ibu keluar kolamb) Saat manajemen aktif kala III, syntometrine dapat diberikan
b.      Estimasikan perdarahan
c.       Penjahitan perineum dapat di tunda sekurang-kurangnya 1 jam untuk menghilangkan retensi air dalam jaringan (jika perdarahan tidak berlebihan)

    V.            PENGELOLAAN KELAS IBU HAMIL
A.    Pengertian
Kegiatan Kelas Ibu Hamil merupakan sarana untuk belajar kelompok tentang kesehatan bagi ibu hamil, dalam bentuk tatap muka yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, perawatan nifas dan perawatan bayi baru lahir, melalui praktik dengan menggunakan buku KIA (Kesehatan Ibu anak) ( Depkes, 2009 : vii).

B.     Tujuan dan manfaat
1.      Tujuan
Pegangan fasilitator Kelas Ibu Hamil ini diharapkan dapt menjadi catatan alur pembelajaran bagi fasilitator dalam melakukan fasilitasi standar Kelas Ibu Hamil

2.      Manfaat Kelas Ibu Hamil
a.       Supaya ibu mengerti tentang kelas ibu hamil
b.      Supaya ibu bisa mengaplikasikannya ke dalam kehidupannya sehari-hari
c.       Menambah wawasan keluarga tentang kelas ibu hamil

C.    Sasaran
Bidan atau petugas kesehatan yang terkait dengan kegiatan pelayanan kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam melakukan fasilitasi Kelas Ibu Hamil yang sudah mendapatkan pelatihan.

D.    Pelaksanaan
1.      Langkah-langkah materi pertemuan kelas ibu hamil pertama
a.       Pertemuan kelas Ibu Hamil dapat dibuka oleh pejabat yang berwenang setempat atau bidan yang bertindak sebagai fasiliator.
b.      Menginformasikan dan mendiskusikan kesepakatan kelompok yang akan disetujui dan ditepati oleh semua peserta, misalnya waktu mulai dan berakhirnya, tempat pelaksanaan kelas ibu hamil dll.
c.       Perkenalan : fasilitator memperkenalkan diri, sedangkan peserta memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, jumlah anak, pengalaman pada kehamilan ini atau kehamilan sebelumnya dan harapan setelah mengikuti kelas ibu hamil.
d.      Menginformasikan bahwa peserta akan mengikuti kelas ibu hamil ini minimal 3 kali pertemuan.
e.       Materi yang diberikan meliputi perawatan kehamilan, persiapan dan proses persalinan, gizi dan pencegahan anemia, cara menyusui yang baik, imunisasi, Infeksi Menular Seksual, HIV dan AIDS, penyakit malaria, Keluarga Berencana, senam hamil dll.
f.       Menginformasikan dan mendiskusikan tujuan Buku KIA
g.      Membagikan lembar quisioner kepada peserta untuk melakukan pre-test materi pertemuan pertama.
h.      Menjelaskan cara pengisian dan berikan bimbingan kepada peserta yang tidak dapat membaca dan menulis dengan cara membacakan soal dan pilihan jawaban, serta mencatat jawaban yang di berikan ibu.
i.        Mengumpulkan hasil para-tes dan evaluasi untuk mengetahui pengetahuan awal peserta kelas ibu hamil ini.
j.        Setelah pre-test, informasikan bahwa kita akan mulai mendiskusikan materi-materi mengenai kehamilan, perubahan tubuh dan perawatan kehamilan.
k.      Meminta pendapat peserta apa yang disebut dengan kehamilan, bagaimana terjadinya dan apa yang disebut dengan tanda-tanda kehamilan. Mendiskusikan bersama seluruh peserta.
l.        Menjelaskan bagaimana terjadinya kehamilan dan tanda-tandanya sesuai dengan ulasan materi 1.1.
m.    Meminta pendapat peserta perubahan tubuh apa yang terjadi pada ibu hamil. Sesuaikan dengan pengalaman peserta saat hamil ini atau pada kehamilan sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar