BAB I
PENDAHULUAN
I.
Latar Belakang
Dewasa ini banyak sekali kasus-kasus terkait masalah
kehamilan khususnya mengenai kondisi ibu dan bayi. Terjadi banyak sekali kasus
yang menimpa kesehatan ibu dan bayi sehingga membuat public dan pemerintah
memfokuskan perhatiannya pada masalah ini sehingga banyak sekali
program-program baik dari pemerintah ataupun swasta terkait penanggulangan hal
ini.
Seiring hal itu
timbul juga berbagai metode atau teknik-teknik dari penemuan-penemuan baru
tentang proses persalinan yang aman salah satunya ialah Hypnobirthing yaitu metode mengurangi rasa sakit saat melahirkan
dengan meningkatkan relaksasi selain itu juga Waterbirth juga mulai popular di kalangan masyarakat.
Berdasarkan kondisi di atas maka perlu bagi para ahli
medis mengetahui prosedur atau tindakan-tindakan terkait dengan persiapan persalinan
hingga proses persalinan.
Makalah ini berisi beberapa pembahasan mengenai persiapan
hingga proses persalinan untuk membantu pembaca khususnya tenaga kesehatan
dalam meningkatkan kualitas pelayanannya seiring perkembangan zaman.
II.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien hiperemisis
?
2. Bagaimana penatalaksanaa pada pasien kehamilan
gemeli ?
3. Bagaimana penatalaksanaan pada pasien hypnobirthing
?
4. Bagaimana penatalaksanaan waterbirth ?
5. Bagaimana pengelolaan kelas ibu hamil ?
6. Bagaimana pengelolaan kehamilan pada trimester
III ?
III.
Tujuan
a. Tujuan
umum
Adapun tujuan umum penyusunan
makalah ini adalah mendukung kegiatan pembelajaran keparawatan, khususnya mata
kuliah Sistem Reproduksi II serta melatih mahasiswa untuk berpikir kritis.
b. Tujuan
khusus
Tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
a) Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan
hiperemisis
b) Mahasiswa mampu memahami tentang kehamilan
gemeli
c) Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan
hypnobirthing
d) Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan water
birth
e) Mahasiswa mampu memahami pengelolaan kelas ibu
hamil
f) Mahasiswa mampu memahami pengelolaan kehamilan
pada trimester III
- Manfaat
Mendapatkan
pengetahuan tentang Sistem Reproduksi II khususnya tentang perencanaan
persalinan pada ibu hamil sehingga nantinya dapat mengembangkan pengetahuan
tersebut dalam praktik keperawatan.
BAB II
PEMBAHASAN
I.
PENATALAKSANAAN
HIPEREMESIS
A.
Pengertian
Hiperemesis
adalah mual muntah yang berlebihan pada wanita hamil secara terus-menerus yang
terjadi pada trimester I dan trimester II dengan frekuensi >10 kali selama
24 jam karena pengaruh hormon ekstrogen yang dapaat meningkatkan produksi
saliva dan dehidrasi serta kelemahan daan stress pada ibu haamil.
B.
Etiologi
Penyebab
hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Frekuensi kejadian adalah
2 per 1000 kehamilan. Faktor-faktor predisposisi yang dikemukakan (Rustam
Mochtar, 1998).
1) Faktor
organik, yaitu karena masuknya vili khoriales dalam sirkulasi maternal dan
perubahan metabolik akibat kehamilan serta resistensi yang menurun dari pihak
ibu terhadap perubahan-perubahan ini serta adanya alergi, yaitu merupakan salah
satu respon dari jaringan ibu terhadap janin.
2) Faktor
Psikologik, Faktor ini memegang peranan penting pada penyakit ini. Rumah tangga
yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan,
takut terhadap tanggungan sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang
dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap
keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian kesukaran hidup.
3) Faktor
endokrin lainnya : hipertiroid, diabetes, peningkatan kadar HCG dan lain-lain.
C.
Tanda
dan Gejala
Batas
mual dan muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada
kesepakatan. Ada yang mengatakan bila lebih dari sepuluh kali muntah. Akan
tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemesis
gravidarum. Menurut berat ringannya gejala dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu
:
1) Tingkatan
I (ringan)
-
Mual muntah
terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita
-
Ibu merasa lemah
-
Nafsu makan tidak ada
-
Berat badan menurun
-
Merasa nyeri pada
epigastrium
-
Nadi meningkat sekitar
100 per menit
-
Tekanan darah menurun
-
Turgor kulit berkurang
-
Lidah mongering
-
Mata cekung
2) Tingkatan
II (sendang)
-
Penderita tampak lebih
lemah dan apatis
-
Turgor kulit mulai
jelek
-
Lidah mengering dan
tampak kotor
-
Nadi kecil dan cepat
-
Suhu badan naik (dehidrasi)
-
Mata mulai ikterik
-
Berat badan turun dan
mata cekung
-
Tensi turun,
hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi
-
Aseton tercium dari
hawa pernafasan dan terjadi asetonuria.
3) Tingkatan
III (berat)
-
Keadaan umum lebih
parah (kesadaran menurun dari somnolen sampai koma)
-
Dehidrasi hebat
-
Nadi kecil, cepat dan
halus
-
Suhu badan meningkat
dan tensi turun
-
Terjadi komplikasi
fatal pada susunan saraf yang dikenal dengan enselopati wernicke dengan gejala
nistagmus, diplopia dan penurunan mental
-
Timbul ikterus yang
menunjukkan adanya payah hati.
D.
Penatalaksanaan
a) Pencegahan
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum diperlukan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologis. Hal itu dapat dilakukan dengan cara :
Pencegahan terhadap hiperemesis gravidarum diperlukan dengan jalan memberikan penerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologis. Hal itu dapat dilakukan dengan cara :
-
Memberikan keyakinan
bahwa mual dan muntah merupakan gejala yang fisiologik pada kehamilan muda dan
akan hilang setelah kehamilan berumur 4 bulan.
-
Ibu dianjurkan untuk
mengubah pola makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi
sering.
-
Waktu bangun pagi
jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti
kering arau biskuit dengan teh hangat
-
Hindari makanan yang
berminyak dan berbau lemak
-
Makan makanan dan
minuman yang disajikan jangan terlalu panas atau terlalu dingin
-
Usahakan defekasi
teratur.
b) Terapi
obat-obatan
Apabila dengan
cara diatas keluhan dan gejala tidak berkurang maka diperlukan pengobatan.
-
Tidak memberikan obat
yang terotogen
-
Sedativa yang sering
diberikan adalah Phenobarbital
-
Vitamin yang sering dianjurkan
adalah vitamin B1 dan B6
-
Antihistaminika seperti
dramamine, avomine
-
Pada keadaan berat,
anti emetik seperti diklomin hidrokhoride atau khlorpromazine.
E.
Akibat
hiperemesis bagi ibu dan janin
1) Pada
ibu
·
Anemia, preeklampsia
·
Perslinan premature
·
Kelemahan
2) Pada
janin
·
KJDR ( kematian janin
dalam rahim )
·
Angka kematian lebih
tinggi
·
BBLR
II.
GEMELI
A.
Pengertian
Kehamilan
kembar atau kehamilan multipel ialah suatu kehamilan dengan dua janin atau
lebih yang menghasilkan 2 janin dari monozigot maupun dizigot yang biasanya
terjadi pada wanita hamil berusia 25 tahun dan wanita gemuk, biasanya bayi
lahir prematur.
B.
Etiologi
1) Kembar
Monozigotik
Kembar
monozigotik atau identik, muncul dari suatu ovum tunggal yang dibuahi yang
kemudian membagi menjadi dua struktur yang sama, masing-masing dengan potensi
untuk berkembang menjadi suatu individu yang terpisah.
Hasil
akhir dari proses pengembaran monozigotik tergantung pada kapan pembelahan
terjadi, dengan uraian sebagai berikut :
·
Apabila pembelahan
terjadi didalam 72 jam pertama setelah pembuahan, maka dua embrio, dua amnion
serta dua chorion akan terjadi dan kehamilan diamnionik dan di chorionik.
Kemungkinan terdapat dua plasenta yang berbeda atau suatu plasenta tunggal yang
menyatu.
·
Apabila pembelahan
terjadi antara hari ke-4 dan ke-8 maka dua embrio akan terjadi, masing-masing
dalam kantong yang terpisah, dengan chorion bersama, dengan demikian
menimbulkan kehamilan kembar diamnionik, monochorionik.
·
Apabila terjadi sekitar
8 hari setelah pembuahan dimana amnion telah terbentuk, maka pembelahan akan
menimbulkan dua embrio dengan kantong amnion bersama, atau kehamilan kembar monoamnionik,
monochorionik.
·
Apabila pembuahan
terjadi lebih belakang lagi, yaitu setelah lempeng embrionik terbentuk, maka
pembelahannya tidak lengkap dan terbentuk kembar yang menyatu.
2) Kembar
Dizigot
Dizigotik,
atau fraternal, kembar yang ditimbulkan dari dua ovum yang terpisah. Kembar
dizigotik terjadi dua kali lebih sering daripada kembar monozigotik dan
insidennya dipengaruhi oleh sejumlah faktor antara lain yaitu ras, riwayat
keluarga, usia maternal, paritas, nutrisi dan terapi infertilitas.
C.
Tanda
dan Gejala
·
Berat badan naik
·
Terdengar 2 DJJ
·
Perut membesar / Rahim
tumbuh lebih besar
·
Lebih sering mual
muntah
·
Sesak nafas
·
Sering berkemih
·
Distensi berlebih
·
Uterus lebih mendesak
·
Edema tungkai
D.
Patofisiologi
Pada
kehamilan kembar distensi uterus berlebihan, sehingga melewati batas toleransi
dan seringkali terjadi putus prematurus. Lama kehamilan kembar dua rata-rata
260 hari, triplet 246 hari dan kuadruplet 235 hari. Berat lahir rata-rata
kehamilan kembar ± 2500gram, triplet 1800gram, kuadriplet 1400gram. Penentuan
zigositas janin dapat ditentukan dengan melihat plasenta dan selaput ketuban
pada saat melahirkan. Bila terdapat satu amnion yang tidak dipisahkan dengan
korion maka bayi tesebut adalah monozigotik. Bila selaput amnion dipisahkan
oleh korion, maka janin tersebut bisa monozigotik tetapi lebih sering
dizigotik.
Pada
kehamilan kembar dizigotik hampir selalu berjenis kelamin berbeda. Kembar
dempet atau kembar siam terjadi bila hambatan pembelahan setelah diskus
embrionik dan sakus amnion terbentuk, bagian tubuh yang dimiliki bersama dapat.
Secara
umum, derajat dari perubahan fisiologis maternal lebih besar pada kehamilan
kembar dibanding dengan kehamilan tunggal. Pada trimester 1 sering mengalami
nausea dan muntah yang melebihi yang dikarateristikan kehamilan-kehamilan
tunggal. Perluasan volume darah maternal normal adalah 500 ml lebih besar pada
kehamilan kembar, dan rata-rata kehilangan darah dengan persalinan vagina
adalah 935 ml, atau hampir 500 ml lebih banyak dibanding dengan persalinan dari
janin tunggal.
Massa
sel darah merah meningkat juga, namun secara proporsional lebih sedikit pada
kehamilan-kehamilan kembar dua dibanding pada kehamilan tunggal, yang
menimbulkan” anemia fisiologis” yang lebih nyata. Kadar haemoglobin kehamilan
kembar dua rata-rata sebesar 10 g/dl dari 20 minggu ke depan. Sebagaimana
diperbandingkan dengan kehamilan tunggal, cardiac output meningkat sebagai
akibat dari peningkatan denyut jantung serta peningkatan stroke volume. Ukuran
uterus yang lebih besar dengan janin banyak meningkatkan perubahan anatomis
yang terjadi selama kehamilan. Uterus dan isinya dapat mencapai volume 10 L
atau lebih dan berat lebih dari 20 pon. Khusus dengan kembar dua monozygot,
dapat terjadi akumulasi yang cepat dari jumlah cairan amnionik yang nyata
sekali berlebihan, yaitu hidramnion akut.
Dalam
keadaan ini mudah terjadi kompresi yang cukup besar serta pemindahan banyak
visera abdominal selain juga paru dengan peninggian diaphragma. Ukuran dan
berat dari uterus yang sangat besar dapat menghalangi keberadaan wanita untuk
lebih sekedar duduk.
Pada
kehamilan kembar yang dengan komplikasi hidramnion, fungsi ginjal maternal
dapat mengalami komplikasi yang serius, besar kemungkinannya sebagai akibat
dari uropati obstruktif. Kadar kreatinin plasma serta urin output maternal
dengan segera kembali ke normal setelah persalinan. Dalam kasus hidramnion
berat, amniosintesis terapeutik dapat dilakukan untuk memberikan perbaikan bagi
ibu dan diharapkan untuk memungkinkan kehamilan dilanjutkan.
Berbagai
macam stress kehamilan serta kemungkinan-kemungkinan dari komplikasi-komplikasi
maternal yang serius hampir tanpa kecuali akan lebih besar pada kehamilan
kembar.
E.
Penatalaksanaan
Untuk
menurunkan mortalitas dan morbiditas perinatal pada kehamilan kembar, perlu dilakukan
tindakan-tindakan untuk mencegah terjadinya komplikasi seawal mungkin.
Diagnosis dini kehamilan kembar harus dapat ditegakkan sebagai perencanaan
pengelolaan kehamilan. Mulai umur kehamilan 24 minggu pemeriksaan antenatal
dilakukan tiap 2 minggu, dan sesudah usia kehamilan 36 minggu pemeriksaan
dilakukan tiap minggu. Istirahat baring dianjurkan lebih banyak karena hal itu
menyebabkan aliran darah keplasenta meningkat agar pertumbuhan janin baik.
Kebutuhan
kalori, protein, mineral, vitamin dan asam lemak esential harus cukup oleh
karena kebutuhan yang meningkat pada kehamilan kembar. Kebutuhan kalori harus
ditingkatkan sebesar 300 kalori perhari. Pemberian 60 sampai 100 mg zat besi
perhari, dan 1 mg asam folat diberikan untuk menambah zat gizi lain yang telah
diberikan. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk mengetahui adanya
diskordansi pada kedua janin pengukuran lingkar perut merupakan indikator yang
sensitif dalam menentukan diskordansi.
Pada
kehamilan kembar terjadi peningkatan risiko persalinan preterm, sehingga
dilakukan pemberian kortikosteroid diperlukan untuk pematangan paru berupa
betamethsone 12 mg/hari , untuk 2 hari saja. Bila tak ada betamethasone dapat
diberikan dexamethasone serta pemberian tokolitik.
F.
Komplikasi
3) Pada
ibu
·
Anemia, preeklampsia
·
Perslinan premature
·
Inersia / atonia uteri
·
Plasenta previa
·
Solusio plasenta
·
HPP
4) Pada
janin
·
KJDR ( kematian janin
dalam rahim )
·
Angka kematian lebih
tinggi
·
BBLR
·
Cacat bawaan
·
Mobiditas dan
mortalitas
III.
PENATALAKSANAAN
HYPNOBIRTHING
A.
Pengertian
Hypnobirthing
berasal dari kata hypno (hypnos dari bahasa Yunani yang
artinya "tidur") dan birthing dari bahasa Inggris yaitu
"proses melahirkan". Hypnobirthing adalah science and
art (ilmu pengetahuan dan keterampilan dengan bahasan secara ilmiah).
Hypnobirthing
merupakan teknik melahirkan secara alami, yang meliputi relaksasi mendalam,
pola pernapasan secara lambat dan petunjuk cara melepaskan endorfin dari dalam
tubuh. Hypnobirthing memungkinkan calon ibu untuk menikmati proses
kelahiran yang aman, lembut, cepat dan tanpa proses pembedahan.
B.
Tujuan
dan manfaat
1) Untuk Ibu
Ibu
hamil bisa memanage atau mengurangi kadar rasa sakit saat melahirkan,
meminimalisir stress, depresi saat masa melahirkan, karena ibu jauh lebih mudah
mengontrol emosinya. Ibu mendapatkan rasa nyaman, ketenangan dan kebahagiaan
karena persalainan yang lebih lancar. Mencegah kelelahan yang berlebihan saat
proses persalainan, malah beberapa kasus meski habis mengejan namun wajah
menjadi jauh lebih segar. Mengurangi komplikasi medis dalam melahirkan.
2) Untuk janin
Janin
merasa ada kedekatan emosi dan ikatan batin lebih kuat, karena saat melakukan
hypnobirthing ubu dan janin menjalin komunikasi bawah sadar, bayi yang
dolahirkan relatif tidak kekurangan oksigen. Janin juga merasa damai dan
mendapatkan getaran tenang serta pertumbuhan hormon melalui plasenta lebih
seimbang.
3) Untuk Suami
Merasa
lebih tenang dalam mendampingi proses kelahiran, emosi kehidupan suamiistri
lebih seimbang, (karena ada wanita hamil yang bawaanya lebih marah marah, lebih
egois dll) bisa diseimbvangakan dengan hypnobirthing. Jika suami melakukan
hypnobirthing ke istri ada jalinan lebih mesra ke istrinya dan bisa mendekatkan
dengan sang janin.
4) Keuntungan bagi Dokter dan para
medis
Kerja
lebih ringan, karena wanita yang masuk program hypnobirthing lebih stabil
emosinya, tidak banyak mengeluh. Proses persalingan jauh lebih lancar dan cepat.
Meminimalkan penggunaan obat bius, kemungkinan komplikasi persalinan lebih
kecil.Proses pembukaan jalan lahir lebih singkat, meminimalkan penggunaan
induksi persalinan.
C.
Indikasi
dan kontraindikasi
1) Indikasi
·
Hanya untuk
pasien-pasien kooperatif
·
Pasien cemas
2) Kontraindikasi
·
Pasien pada kala I
aktif
D.
Tekhnik
Teknik
Ada berbagai teknik dalam hypnobirthing namun intinya masih seperti menghypnosis
biasa yaitu preinduksi – induksi – deepening -terapeutic sugestion dan
terminasi.
Preinduksi
adalah persiapan masuk ke pikiran bawah sadar dan termasuk mengetahu sebgai
manfaat melakukan hypnosis. Dalam aras pre induksi ini ibu hamil juga dilatih
tungkat kepekaan terhadap sugestibilitas, bisa dengan menggunakan alat atau
tanpa alat. Salah satu alat yang digunakan adalah pendulum cevreul, caranya
diamkan pendulum dan pandang pendulum lalu berkonsetrasi menggerakkan pendulum
ke kanan ke kiri atau berputar hanya dengan memfokuskan pikiran. Cara lain
tanpa alat yaitu dengan metode arm levitation yaitu mengangkat dua tangan lalu
merasakan sugesti tangan kiri seolah ada sensasi balon hingga tangan kiri
terangkat ke atas, tangan kanan ada sensasi membawa buku berat sehingga merasa
tertarik ke bawah. Biasanya hypnotherapis akan mengajarkan kepada ibu hamil
yang ikut kursus hypnobirthing.
Tahap berikutnya adalah induksi yaitu tahap bagaimana meng-offkan pikian sadar dan masuk ke pikiran bawah sadar. Yang lazim gigunakan adalah progresif relaksasi yaitu relaksasi bertahap secara cepat dari ujung kepala secara bagian per bagian sampai ujung kaki. Berikutnya untuk memperdalam relaksasi dilakukan deepening, bisa menggunkan metode elevator seirirng dengan turunnya elevator maka relaksasi makin dalam, cara yang lai bisa menggunakan ball of light yaitu imaginasi kekuatan bola cahaya yang selain memperdalam relaksasi juga sekaligus sugesti menghilangkan kepenatan dan rasa capai. Setalah dilakukan deepening dilakuakna hypnotherapeuticnya, bisa sugesti badan sehat dan perasaan gembira, maupun imaginsi bagaimana melahirkan dengan nyaman dan damai serta tenang. Methode sugesti bisa bermacam macam, bisa disesuaikan dengan keadaan emosi dan fisikal pasien , namun jika pasien mengalami berbagi kasus trauma dan ketakutan yang berlebihan, memang perlu seorang hypnotherapist untuk membantu.
Tahap berikutnya adalah induksi yaitu tahap bagaimana meng-offkan pikian sadar dan masuk ke pikiran bawah sadar. Yang lazim gigunakan adalah progresif relaksasi yaitu relaksasi bertahap secara cepat dari ujung kepala secara bagian per bagian sampai ujung kaki. Berikutnya untuk memperdalam relaksasi dilakukan deepening, bisa menggunkan metode elevator seirirng dengan turunnya elevator maka relaksasi makin dalam, cara yang lai bisa menggunakan ball of light yaitu imaginasi kekuatan bola cahaya yang selain memperdalam relaksasi juga sekaligus sugesti menghilangkan kepenatan dan rasa capai. Setalah dilakukan deepening dilakuakna hypnotherapeuticnya, bisa sugesti badan sehat dan perasaan gembira, maupun imaginsi bagaimana melahirkan dengan nyaman dan damai serta tenang. Methode sugesti bisa bermacam macam, bisa disesuaikan dengan keadaan emosi dan fisikal pasien , namun jika pasien mengalami berbagi kasus trauma dan ketakutan yang berlebihan, memang perlu seorang hypnotherapist untuk membantu.
Seorang
hypnotherapist akan mencari permasalahannya dengan metode hypnoanalisis.
Sugesti bisa berupa mehtapora sugesti, bisa dengan empowerment sugesti maupun
berbagai kalimat afirmatif. Setelah itu proses ditutup dengan terminasi sambil
memberikan sugesti membuka mata dengan keadaadansgear budar.
E.
Efek
samping
Apabila
hypnotherapist tidak memberikan sugestinya dengan benar, maka calon ibu akan
salah mengejan.
F.
Peran
perawat
Pendamping
kelahiran pilihan ibu merupakan bagian integral dari pengalaman hypnobirthing.
Dia akan praktek bersama ibu untuk membantu mempersiapkan relaksasi yang
mendalam. Selama proses melahirkan atau persalinan, pendamping kelahiran
membimbing ibu memasuki hypnosis dengan teknik relaksasi, deepening dan
visualisasi. Pendamping kelahiran juga mempersiapkan kondisi melahirkan atau
persalinan yang nyaman untuk ibu, bergabung dalam menyambut bayi yang baru
lahir dan biasanya menerima bayi saat dia muncul.
IV.
PENATALAKSANAAN
WATERBIRTH
A.
Pengertian
Waterbirth
adalah proses persalinan yang dilakukan di dalam air. Sang ibu yang akan
melakukan proses persalinan memasuki air kolam saat mulut rahim sudah tahap
pembukaan 6.
Water birth
merupakan salah satu metode persalinan pervaginam, dimana ibu hamil tanpa
komplikasi bersalin dengan jalan berendam dalam air hangat (yang dilakukan pada
bathtub atau kolam) dengan suhu
340-370 yang suhunya disesuaikan dengan suhu dalam rahim
ibu sampai proses melahirkan berakhir, dengan tujuan mengurangi rasa nyeri
kontraksi dan memberi sensasi rasa nyaman. Ada 2 metode waterbirth, yaitu :
1) Water
birth murni, ibu masuk ke kolam persalinan setelah mengalami pembukaan 6 sampai
proses melahirkan terjadi.
2) Water
birth emulsion, ibu hanya berada di dalam kolam hingga masa kontraksi akhir.
Proses melahirkan tetap dilakukan di tempat tidur.
B.
Tujuan
dan manfaat
Metode
Waterbirth memiliki banyak keuntungan bagi ibu dan bayi dibandingkan dengan
metode persalinan tradisional. Ini dihubungkan secara signifikan dengan adanya
pengurangan penggunaan analgesic pemendekan persalinan kala I dan pengurangan
angka episiotomi jika dibandingkan dengan persalinan lainnya.
C.
Keuntungan
water birth
1) Keuntungan
Bagi Ibu
a. Mengurangi
Nyeri Persalinan dan Memberi Rasa Nyaman
Nyeri
persalinan berkurang disebabkan ibu berendam dalam air hangat yang membuat
rileks dan nyaman sehingga rasa sakit dan stress akan berkurang. Mengurangi
rasa sakit adalah tujuan utamanya, sedangkan secara teknis melahirkan dalam air
pada dasarnya sama seperti melahirkan normal, proses dan prosedurnya sama hanya
tempatnya yang berbeda. Pada Water Birth ibu melahirkan bayinya dalam kolam
dengan posisi bebas dan yang paling dirasakan nyaman oleh ibu. Kolam dapat
terbuat dari fiber glass atau bahan lain.
Adanya
mitos yang menyebutkan pemanjangan fase-fase persalinan. Pada kenyataannya
Water Birth merupakan persalinan alamiah, dan tidak sepenuhnya mengurangi nyeri
kontraksi. Meskipun demikian banyak wanita merasakan adanya pengurangan nyeri
sewaktu ada dalam air, berendam dalam air hangat dan mengapung. Penelitian juga
menunjukkan persalinan dalam air sesungguhnya dapat memperpendek persalinan
kala I dan tekanan darah menjadi lebih rendah di banding persalinan
konvensional. Ibu hamil yang berendam di dalam air hangat pada persalinan
dengan penyulit (distosia) dibandingkan dengan augmentasi standar menunjukkan
bahwa angka penggunaan epidural analgesia dan intervensi obstetri lebih rendah.
Berendam dalam air akan dapat mengurangi 75% nyeri persalinan, kemampuan
mengapung ibu akan menolong untuk relaksasi, pergerakan selama persalinan water
birth yang lebih leluasa menyebabkan ibu nyaman dan rileks, sedangkan air
hangat akan membantu mengurangi nyeri.
b. Mengurangi
Tindakan Episiotomi
Dalam
hal trauma perineum, dukungan air pada waktu kepala bayi crowning lambat akan
menurunkan risiko robekan dan dapat mengurangi keperluan akan tindakan
episiotomi. Selain itu, trauma perineum yang terjadi tidak berat dengan
dijumpai lebih banyak kejadian intak perineum. Masih terdapat mitos bahwa ibu
yang melahirkan dalam air lebih mungkin untuk mengalami robekan karena yang
membantu persalinan kesulitan untuk melakukan episiotomi jika diperlukan. Namun
sesungguhnya ibu yang melahirkan dalam air hangat kurang mengalami robekan
karena air hangat dapat meningkatkan aliran darah dan mampu melunakkan jaringan
di sekitar perineum ibu. Ketika memerlukan episiotomy, penolong justru lebih
mudah menjangkau bagian perineum ibu untuk melakukan message atau tindakan
lain. Kebanyakan episiotomi tidak diperlukan dan jika penolong menganggap
selama proses persalinan terdapat keadaan emergensi penolong akan membatalkan
pelaksana metode ini.
c. Pemendekan
Persalinan Kala I
Persalinan
dan kelahiran di dalam air juga dapat mempercepat proses persalinan yang
dihubungkan secara signifikan dengan persalinan kala I yang akan menjadi lebih
pendek. Dalam hal ini ibu dapat lebih mengontrol perasaannya, menurunkan
tekanan darah, lebih rileks, nyaman, menghemat tenaga ibu, mengurangi keperluan
obat-obatan dan intervensi lainnya, member perlindungan secara pribadi,
mengurangi trauma perineum, meminimalkan penggunaan episiotomy, mengurangi
kejadian seksio sesaria, memudahkan persalinan.
d. Menurunkan
Tekanan Darah
Dalam
hal menurunkan tekanan darah, menurut Pre & Perinatal Psycology Association
of North America Conference, wanita dengan hipertensi akan mengalami penurunan
tekanan darah setelah berendam dalam air hangat selama 10-15 menit. Kecemasan
yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah akan dapat dikurangi dengan
berendam dalam air hangat.
2) Keuntungan
Bagi Bayi
Persalinan
sendiri dapat mejadi masalah, mungkin juga mengganggu dan merupakan pengalaman
bagi bayi. Water Birth memberikan keuntungan terutama saat kepala bayi masuk ke
jalan lahir, dimana persalinan akan menjadi lebih mudah. Air hangat dengan suhu
yang tepat suasananya menyerupai lingkungan intrauterine sehingga memudahkan
transisi dari jalan lahir ke dunia luar.
Air
hangat juga dapat mengurangi ketegangan perineum dan member rasa nyaman bagi
ibu dan bayi, sehingga bayi lahir kurang mendapatkan trauma (oleh karena adanya
efek dapat melenturkan dan meregangkan jaringan perineum dan vulva)
dibandingkan pada persalinan air dingin dan tempat bersalin umumnya.
Bayi
yang lahir di dalam air tidak segera menangis, bayi tampak menajdi tenang. Bayi
tidak tenggelam jika dilahirkan di air, karena selama kehamilan bayi hidup
dalam lingkungan air (amnion) sampai terjadi transisi persalinan dari uterus ke
permukaan air.
Demikian
pula masalah lilitan tali pusat di leher, tidak menjadi masalah, sepanjang
tidak ada deselerasi denyut jantung bayi (yang menunjukkan fetal distress)
sebagai akibatnya ketatnya lilitan tali pusat di leher. Pemendekan persalinan
kala I selain memudahkan persalinan bagi ibu juga baik untuk bayi yaitu
mencegah trauma atau resiko cedera kepala bayi, kulit menjadi lebih bersih,
menurunkan risiko bayi keracunan air ketuban.
D.
Kerugian Water Birth
Adapun
risiko-risiko yang dapat timbul antara lain:
1) Risiko
Maternal
a. Infeksi
Menurut
European Journal of Obstetrics and Reproductive Biology 2007, Water Birth
merupakan avaluable alternative persalinan normal. Penelitian yang dipimpin
oleh Rosanna Zanetti-Daellenbach menemukan tidak ada perbedaan angka kejadian
infeksi maternal maupun neonatal atau parameter laboratorium termasuk luaran
fetus dalam hal APGAR Score, pH darah dan keperluan perawatan intensif.
Ada
pendapat yang menyatakan bahwa Water Birth menyebabkan risiko infeksi oleh
karena berendam dalam air yang tidak steril dan ibu dapat mengeluarkan kotoran
saat mengedan dalam kolam air.
Namun
penelitian menunjukkan bahwa traktus intestinal bayi mendapatkan keuntungan
dari paparan ini. Kelahiran tersebut dan diri kita sendiri tidak steril.
Sekresi vagina blood slim, cairan amnion, dan feses ibu ketika bayi masuk ke
dalam rongga panggul, keseluruhannya tidak steril. Jika ibu dalam keadaan
persalinan kala aktif, air tidak akan masuk ke jalan lahir sewaktu ibu ada
dalam kolam.
Air
dapat masuk ke vagina, namun tidak dapat masuk ke vagina bagian dalam, ke
serviks maupaun uterus. Penyakit infeksi tertentu, akan mati segera ketika
kontak dengan air. Salah satu cara yang digunakan untuk mencegah terjadinya
infeksi adalah menggunakan pompa pengatur agar air tetap bersikulasi dengan filter/penyaring
air sehingga jika air terminum tidak beresiko infeksi. Kolam yang sudah
disterilkan kemudian akan diisi air yang suhunya sekitar 32-370 disesuaikan
dengan suhu tubuh.
b. Perdarahan
Postpartum
Risiko
perdarahan pada ibu dan bayi juga harus dipertimbangkan. Walaupun comparative
study di Swiss menunjukkan suatu hal yang positif, namun penelitian lain di
Inggris tidak menemukan adanya perbedaan yang bermakna antara metode Water
Birth dengan metode persalinan lainnya. Penyedia layanan Water Birth yang tidak
berpengalaman akan sukar menilai jumlah perdarahan post partum, sementara
metode penanganannya telah berkembang dengan baik. Hal ini menyebabkan sejumlah
penyedia layanan lebih memilih melahirkan plasenta di luar kolam seperti di The
University of Michigan Hospital.
c. Trauma
Perineum
Penggunaan
episiotomy pada Water Birth 8,3% tidak menunjukkan laserasi perineum derajat
tingkat III dan IV dan 25,7%, pada land birth menunjukkan kejadian laserasi
perineum derajat tingkat III dan IV dengan angka penggunaan episiotomi lebih
tinggi. A Cochrane review oleh Cluett et all, membuktikan bahwa ada resiko
terjadi trauma perineum pada persalinan dengan Water Birth, namun tidak
terdapat perbedaan yang bermkana pada luaran klinik dalam hal trauma perineum.
Pada penelitian tahun 1991-1997 Obstetrics and Gynecology of Cantonal Hospital
of Frauenfeld, Switzerland membandingkan 3 group persalinan pervaginam: water
birth, Maia-birthing stool, dan bedbirth mendapatkan angka kejadian episiotomy
12,8% pada water birth 27,7% pada Maia-birthing stool, dan 34,5% pada bedbirth.
Ini secara statistic sangat bermakna. Disamping angka episiotomy bedbirth
terjadi paling tinggu juga menunjukkan derajat laserasi perineum III dan IV
(4,1%).
2) Risiko
Neonatal
Terdapat
risiko penting secara klinik pada bayi, termasuk masalah pernapasan rupture
tali pusat disertai perdarahan, dan penularan infeksi melalui air.
a. Terputusnya
Tali Pusat
Mekanisme
terputusnya tali pusat ini terjadi ketika bayi lahir sesegera mungkin dibawa ke
permukaan air tidak sedara “gentle”, jika tali pusat pendek akan dapat
mengakibatkan tegangan yang berlebihan pada tali pusat. Suatu review yang
mengidentifikasi 16 artikel, melaporkan adanya 63 komplikasi neonatal
diakibatkan oleh water birth, salah satu diantaranya adalah masalah putusnya
tali pusat. Kasus terputusnya tali pusat kemungkinan disebabkan oleh terlalu
cepat mengangkat bayi kepermukaan sehingga menyebabkan tarikan cepat dari tali
pusat yang melampaui panjang tali dibandingkan biasanya.
b. Takikardi
c. Infeksi
Risiko
infeksi terjadi pada water birth. Infeksi saluran pernapasan pada bayi yang
dilahirkan secara water birth jarang terjadi namun resiko ini tetap harus
diperhitungkan. Sejumlah kasus yang mungkin membahayakan bayi antara lain
infeksi herpes, perdarahan luas, dan berbagai infeksi lainnya. Metode water
birth tidak direkomendasikan pada bayi preterm. Berdasarkan laporan kasus yang
dipublikasikan, infeksi P.aeruginosa didapatkan pada bayi preterm.
Berdasarkan
laporan kasus yang dipublikasikan infeksi P.aeruginosa didapatkan pada swab
telinga dan umbilicus bayi yang lahir dengan water birth.
d. Hipoksia
Tali
pusat secara terus menerus akan menyediakan darah beroksigen, sambil bayi
merespon stimulasi baru yaitu pertama kali mengisi paru-parunya dengan udara. Penundaan
pengkleman dan pemotongan tali pusat sangat bermanfaat dalam proses transisi
bayi untuk hidup di luar uterus. Ini akan memaksimalkan fungsi perfusi jaringan
paru.
Garland
(2000) tidak merekomendasikan pemotongan dan pengkleman tali pusat sampai bayi
mencapai permukaan air disebabkan oleh meningkatnya risiko hipoksia. Hipoksia
bayi akan mengganggu baby’s dive reflex, yang mengakibatkan penekanan respon
menelan sehingga akan menimbulkan bayi menghirup air selama proses water birth.
Odent (1998) merekomendasikan pengkleman tali pusat 4-5 menit setelah
persalinan. Namun menurut Austin, Bridges, Markiewicz and Abrahamson (1997)
penundaan pengkleman tali pusat dapat mengakibatkan polistemia. Berdasarkan
hipotesa bahwa air hangat mencegah vasokonstriksi tali pusat sehingga banyak
darah ibu tertransfer ke bayi (vasokontriksi terjadi ketika kontak dengan
udara)
d. Aspirasi
Air dan Tenggelam
Secara
teoritis risiko terjadinya aspirasi air pada water birth sekitar 95%. Risiko
masuknya air ke dalam paru-paru bati dapat dihindari dengan mengangkat bayi
yang lahir sesegera mungkin ke permukaan air. Pemanjangan fase berendam
mengakibatkan kekurangan oksigen emboli air dan perdarahan. Air hangat mencegah
pembekuan darah setelah persalinan dan juga risiko infeksi.
E.
Indikasi
dan kontraindikasi
1) Syarat-syarat
a. Ibu
hamil risiko rendah
b. Ibu
hamil tidak mengalami infeksi vagina saluran kencing dan kulit
c. Tanda vital ibu dalam batas normal dan CTG
bayi normal (baseline, variabilitas dan ada akselerasi)
d. Idealnya, air hangat digunakan untuk relaksasi
dan penanganan nyeri setelah dilatasi serviks mencapai 4-5 cm) Pasien setuju
mengikuti instruksi penolong, termasuk keluar dari kolam tempat berendam jika
diperlukan
2) Kriteria
/ Indikasi
a. Merupakan
pilihan ibu
b. Kehamilan
normal ≥ 37 minggu
c. Fetus
tunggal presentasi kepala
d. Tidak
menggunakan obat-obat penenang
e. Ketuban
pecah spontan < 24 jam
f. Kriteria
non klinik seperti staf atau peralatan
g. Tidak
ada komplikasi kehamilan (preeklampsia, gula darah tak terkontrol,dll)
h. Denyut
jantung normal
i.
Cairan amnion jernih
j.
Persalinan spontan atau
setelah menggunakan misoprostol atau pitocin
3) Kontra
Indikasi
a. Infeksi
yang dapat ditularkan melalui kulit dan darah
b. Infeksi
dan demam pada ibu
c. Herpes
genitalis
d. HIV,
Hepatitis
e. Denyut
jantung abnormal
f. Perdarahan
pervaginam berlebihan
F.
Tekhnik
1) Beberapa
instrument essential yang harus dipersiapkan pada persalinan dengan metode
water birth antara lain:
a) Termometer
air
b) Termometer
ibu
c) Doppler anti
air
d) Sarung tangan
e) Apron
f) Jaring untuk
mengangkat kotoran
g) Alas lutut
kaki, bantal, instrument partus set
h) Shower air
hangat, portable/permanent pool
i)
Handuk, selimut
j) Warmer dan
peralatan resusitasi bayi
2) Selama
Berlangsungnya Persalinan
a. Ibu
masuk berendam ke dalam air direkomendasikan saat pembukaan 4-5 cm dengan
kontraksi uterus baik, ibu dapat mengambil posisi persalinan yang disukainya.
b. Volume
air di dalam kolam berada di bawah pusar ibu, di isi air dengan suhu tubuh
sekitar 37º C (sesuai dengan suhu air ketuban dalam rahim)
3) Observasi
dan monitoring antara lain:
a. Fetal
Heart Rate (FHR) dengan doopler atau fetoskop setiap 30 menit selama persalinan
kala I aktif, kemudian setiap 15 menit selama persalinan kala II. Auskultasi
dilakuakn sebelum, selama, setelah kontraksi.
b. Penipisan
dan pembukaan serviks dan posisi janin. Pemeriksaan vagina (VT) dapat dilakukan
di dalam air atau pasien di minta sementara keluar dari air untuk diperiksa.
c. Status
ketuban, jika terjadi rupture ketuban, periksa FHR dan periksa adanya prolaps
tali pusat. Jika cairan ketuban mekonium pasien harus meninggalkan kolam.
d. Tanda
vital ibu diperiksa setiap 3 jam, dengan suhu setiap 2 jam (atau jika
diperlukan). Jika ibu mengalami pusing, periksa vital sign, ajarkan ibu mengatur
napas selama kontraksi .
e. Dehidrasi
ibu. Dehidrasi dibuktikan dengan adanya takikardi ibu dan janin dan peningkatan
suhu badan ibu. Jika tanda dan gejala dehidrasi terjadi, ibu diberikan cairan.
Jika tidak berhasil pasang infus ringer laktat (RL)
4) Manajemen
Kala II
a. Mengedan
seharusnya secara fisiologis. Ibu diperkenankan mengedan spontan, risiko
ketidakseimbangan oksigen dan karbondioksida dalam sirkulasi maternal-fetal
berkurang, dan juga akan dapat melelahkan ibu dan bayi.
b. Persalinan,
bila mungkin metode “hand off”. Ini akan meminimalkan stimulasi.
c. Tidak
diperlukan palpasi tali pusat ketika kepala bayi lahir, karena tali pusat dapat
lepas dan melonggar ketika bayi lahir. Untuk meminimalkan risiko tali pusat
terputus dengan tidak semestinya hindari tarikan ketika kepala bayi ke
permukaan air. Tali pusat jangan diklem dan dipotong ketika bayi masih ada di
dalam air.
d. Bayi seharusnya lahir lengkap dalam air.
Kemudian sesegera mingkin dibawa kepermukaan. Pada saat bayi telah lahir kepala
bayi berada diatas permukaan air dan badannyamasih di dalam air untuk
menghindari hipotermia. Sewaktu kepala bayi telah berada di atas air, jangan
merendamnya kembali.
5) Manajemen
Kala III
a. Manajemen
aktif dan psikologi tetap diberikan sampai ibu keluar kolamb) Saat manajemen
aktif kala III, syntometrine dapat diberikan
b. Estimasikan
perdarahan
c. Penjahitan
perineum dapat di tunda sekurang-kurangnya 1 jam untuk menghilangkan retensi
air dalam jaringan (jika perdarahan tidak berlebihan)
V.
PENGELOLAAN
KELAS IBU HAMIL
A.
Pengertian
Kegiatan Kelas Ibu
Hamil merupakan sarana untuk belajar kelompok tentang kesehatan bagi ibu hamil,
dalam bentuk tatap muka yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan
ibu-ibu mengenai kehamilan, persalinan, perawatan nifas dan perawatan bayi baru
lahir, melalui praktik dengan menggunakan buku KIA (Kesehatan Ibu anak) (
Depkes, 2009 : vii).
B.
Tujuan
dan manfaat
1. Tujuan
Pegangan fasilitator Kelas Ibu Hamil ini diharapkan dapt
menjadi catatan alur pembelajaran bagi fasilitator dalam melakukan fasilitasi
standar Kelas Ibu Hamil
2. Manfaat Kelas Ibu Hamil
a. Supaya ibu mengerti tentang kelas
ibu hamil
b. Supaya ibu bisa mengaplikasikannya
ke dalam kehidupannya sehari-hari
c. Menambah wawasan keluarga tentang
kelas ibu hamil
C.
Sasaran
Bidan atau
petugas kesehatan yang terkait dengan kegiatan pelayanan kesehatan Ibu dan Anak
(KIA) dalam melakukan fasilitasi Kelas Ibu Hamil yang sudah mendapatkan
pelatihan.
D.
Pelaksanaan
1. Langkah-langkah materi pertemuan
kelas ibu hamil pertama
a. Pertemuan kelas Ibu Hamil dapat
dibuka oleh pejabat yang berwenang setempat atau bidan yang bertindak sebagai
fasiliator.
b. Menginformasikan dan mendiskusikan
kesepakatan kelompok yang akan disetujui dan ditepati oleh semua peserta,
misalnya waktu mulai dan berakhirnya, tempat pelaksanaan kelas ibu hamil dll.
c. Perkenalan : fasilitator memperkenalkan
diri, sedangkan peserta memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama, jumlah
anak, pengalaman pada kehamilan ini atau kehamilan sebelumnya dan harapan
setelah mengikuti kelas ibu hamil.
d. Menginformasikan bahwa peserta akan
mengikuti kelas ibu hamil ini minimal 3 kali pertemuan.
e. Materi yang diberikan meliputi
perawatan kehamilan, persiapan dan proses persalinan, gizi dan pencegahan
anemia, cara menyusui yang baik, imunisasi, Infeksi Menular Seksual, HIV dan
AIDS, penyakit malaria, Keluarga Berencana, senam hamil dll.
f. Menginformasikan dan mendiskusikan
tujuan Buku KIA
g. Membagikan lembar quisioner kepada
peserta untuk melakukan pre-test materi pertemuan pertama.
h. Menjelaskan cara pengisian dan
berikan bimbingan kepada peserta yang tidak dapat membaca dan menulis dengan
cara membacakan soal dan pilihan jawaban, serta mencatat jawaban yang di
berikan ibu.
i.
Mengumpulkan hasil para-tes dan evaluasi untuk mengetahui
pengetahuan awal peserta kelas ibu hamil ini.
j.
Setelah pre-test, informasikan bahwa kita akan mulai
mendiskusikan materi-materi mengenai kehamilan, perubahan tubuh dan perawatan
kehamilan.
k. Meminta pendapat peserta apa yang
disebut dengan kehamilan, bagaimana terjadinya dan apa yang disebut dengan
tanda-tanda kehamilan. Mendiskusikan bersama seluruh peserta.
l.
Menjelaskan bagaimana terjadinya kehamilan dan
tanda-tandanya sesuai dengan ulasan materi 1.1.
m. Meminta pendapat peserta perubahan
tubuh apa yang terjadi pada ibu hamil. Sesuaikan dengan pengalaman peserta saat
hamil ini atau pada kehamilan sebelumnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar